Jadi "That Girl" Realistis Nggak, Sih?
Kesempurnaan gaya hidup yang diperlihatkan oleh “that girl” terkesan seperti dream-life bagi beberapa perempuan. Tren yang tumbuh sejak 2021 ini masih diminati karena membawa motivasi self-development yang menarik. Siapa sih ”that girl”? Realistis nggak sih kalau pengen jadi “that girl” juga?
Mindless scrolling di media sosial seperti Pinterest, Instagram Reels atau TikTok untuk sekadar mengisi waktu luang- barangkali prokrastinasi juga, emang suka bikin lupa waktu. Ada aja yang bisa bikin terhibur, ketawa, naikin mood, kesel, bahkan ambyar. Tapi juga dari sanalah kadang ada suatu value yang bisa diambil.
Sejak pandemi ini, pengguna media sosial seolah punya banyak waktu untuk memperkenalkan diri pada jagat maya. Algoritma media sosial bahkan dapat dikatakan sangat kenal dengan personality seseorang hingga dapat memunculkan konten yang hanya disukai si pengguna. Topik kesehatan mental dan pengembangan diri hingga kini masih digaungkan.
Salah satu dari kalian mungkin pernah nemuin konten yang captionnya nggak jauh-jauh dari “become that girl”. Divisualisasikan dengan seorang perempuan yang terbiasa bangun di jam 5 pagi, rajin work out atau meditasi di atas yoga mat-nya, bikin sarapan sehat yang juga instagramable, nyempetin maskeran, baca buku, nulis gratitute journal, bikin kopi, produktif di ruangan yang comfy, dan ajaibnya dia juga bisa menyelesaikan semua to do list-nya itu.
“Jam segitu sih gue masih snoozing alarm”
“Kok bisa ya dia seproduktif itu?”
“Gila ya, hidupnya sempurna banget. Pengen deh jadi “that girl””
Monolog di atas mungkin pernah kamu lontarin ke diri kamu sendiri karena saking kagumnya sama “that girl”. Bisa jadi juga karena kamu malah bandingin diri sendiri yang pas liat konten itu masih rebahan, belom lepas dari kasur yang nggak bakal kemana-mana itu.
Tenang, sist. Masih pagi buat ngekritik diri sendiri.
Tren “that girl” adalah tren bertemakan self-improvement yang biasanya berupa dokumentasi kegiatan rutin perempuan dengan gaya hidup seimbang- juga tampak sempurna, dirangkum dalam sebuah konten yang aesthetically pleasing.
Dalam benak kamu mungkin tergerak setelah melihat konten tersebut. Timbul semangat buat sesegera mungkin bangkit dari kasur buat ngeberesin kamar misalnya, lalu berpikir pengen mencoba kebiasaan-kebiasaan keren kayak si “that girl” itu, dan kamu juga mendambakan achievements yang “that girl” capai. Ya intinya jadi merasa lebih termotivasi buat ngembangin diri. Tentu saja, hal ini bagus kalau bisa diterapin secara sehat dan realistis untuk dijalanin.
Emangnya, apasih yang bikin tren ini terkesan tidak realistis?
Highlight Reel
Bailey Parnell, seorang founder SkillsCamp di acara TEDxRyersonU yang membawakan presentasi berjudul ”Is Social Media Hurting Your Mental Health?” menyebutkan bahwa salah satu stressor yang menyebabkan masalah kesehatan mental di media sosial adalah highlight reel. Highlight reel didefinisikan sebagai kumpulan dari momen-momen terbaik seperti halnya pada highlight berita olahraga. Sama rupanya dengan tren “that girl”, ia hanya memperlihatkan sisi terbaik hingga semuanya terlihat sempurna.
Bailey menyampaikan sebuah kutipan dari Steven Furtick yang ditulis “We struggle with insecurity because we compare our behind the scenes with everyone else’s highlght reel.”
Percuma banget bandingin diri sendiri dengan hal yang emang sengaja ditunjukkin baik-baiknya aja dan nggak yang pernah tau gimana behind the scenes konten tersebut. Perbandingan yang sangat tidak adil, bukan? Sebelum adanya media sosial, fenomena ini juga terjadi ketika orang-orang membandingkan diri dengan selebritas dan apa yang ditayangkan oleh TV.
Time Management
Produktivitas yang ditunjukkan oleh “that girl” juga bisa menimbulkan tekanan. Ia memperlihatkan seolah bisa meraih semua pencapaian sebanyak itu dalam waktu yang sangat singkat. Akibatnya, kamu jadiin itu sebagai standar untuk memadatkan waktu yang kamu punya. Merasa nggak boleh buang-buang waktu tapi lupa mempertimbangkan time management yang tepat. Ini sangat tidak realistis karena tidak semua orang bisa bekerja dengan pace yang sama.
Tekanan itu ngedorong kamu bukan hanya terfokus untuk menyelesaikan to-do list sebanyak-banyaknya dalam waktu secepat-cepatnya, tapi juga ada beberapa aktivitas yang harusnya nggak disisipin di sana malah terkesan jadi wajib buat dikerjain. Kejadian ini bisa terjadi karena aktivitas tadi terkesan enchanting sehingga merasa sayang untuk dilewatkan dan mungkin juga karena kamu lupa akan prioritas pribadi kamu diri sendiri lagi, apakah yang kamu kerjain ini adalah hal yang bener-bener harus diprioritaskan atau supaya terlihat sibuk aja? Prioritas secara sederhananya dapat diukur dari hal yang dinilai penting (dalam jangka pendek maupun panjang) dan darurat (harus segera dikerjakan). Mereduksi beberapa aktivitas yang kurang diprioritaskan bisa mengefisienkan waktu lho, Sist!
Fomsumerism
Metin Argan dan Mehpare Tokay Argan mengatakan bahwa fenomena fomsumerism merupakan gabungan dari FOMO dan perilaku konsumsi. Pertama, kita bahas dulu konsep FOMO yang merupakan kepanjangan dari Fear of Missing Out. FOMO adalah perasaan dimana seseorang tidak merasa hadir atau merasa tertinggal saat orang lain berpartisipasi dalam suatu kegiatan tertentu. Kegiatan tersebut terkemas secara menarik di media sosial. Hal ini menjadikan pengguna media sosial merasa takut bahwa hidupnya tidak dapat menemukan kepuasan seperti yang lain. Untuk mencari kepuasan tersebut, timbul sikap kesediaan untuk berpartisipasi, membayar, dan mengonsumsi hal yang diperlihatkan media sosial dengan dorongan suka atau minat dengan hal tersebut, iri, atau ingin bersaing.
Terus, hubungannya FOMO sama konsumsi apa nih?
Ternyata, perasaan subjektif yang disebabkan oleh FOMO tadi memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan untuk mengonsumsi atau membayar sesuatu agar merasa terlibat dalam aktivitas atau pengalaman yang telah dibagikan orang lain di media sosial. Jadi, fomsumerism adalah gagasan perilaku konsumsi yang terjadi di lingkungan media sosial.
Tren “that girl” dapat berkaitan dengan fenomena fomsumerism. Contohnya saat timbul perasaan ingin check out barang-barang yang dipakai si “that girl”. Bahan makanan organik untuk smoothies yang tampak sehat, daftar buku-buku self-development yang nggak pernah absen dari rutinitas Mbaknya, set pakaian olahraga untuk work out, skin care demi clear skin, study tools atau barang lain yang mewah yang nggak bisa didapetin dalam satu kali jentikan jari aja.
Sebelum ingin melibatkan diri dengan tren tersebut, baiknya mempertimbangkan kondisi finansial terhadap kebutuhan yang ingin dibeli. Kalau nggak pikir panjang mengambil keputusan, bisa kalap deh. Akhir bulan nanti, siapa yang susah? Mbaknya nggak tanggung jawab, tsay.
Penjelasan di atas memang membahas tentang kekurangan dari tren “that girl”. Namun, tulisan ini sejatinya tidak benci tren tersebut. Semua ini pendapat pribadi bahwa tidak semua tren bisa cocok diterapkan oleh semua individu. Kalau beberapa dari kamu merasa fine aja menjalani aktivitas layaknya “that girl”, good for you. Sebaliknya, kalau kurang nyaman ngikutin tren ini, that’s okay. Baik makan mie pakai garpu atau sumpit nggak merubah rasa mie itu sendiri, kan?
Kamu tetep bisa kok ngembangin diri dengan cara yang menurut kamu lebih mindful dan lebih sehat. Be kind to yourself, sist. Small progress is still a progress.
Konten “that girl” sesungguhnya nggak hanya menghibur tapi juga memberi semangat yang baik. Wajar kalau mendapat influence karena ngerasa nggak sendirian merubah diri ke versi yang lebih baik. Girls support girls, kan? Sayangnya, sebagai manusia kadang suka lupa batas, mana kehidupan maya, mana yang nyata. You are enough, Sist!.
Komentar
Posting Komentar